Nenekku waktu semasa hidupnya pernah bercerita padaku semasa kecilku tentang kehidupan di tahun 1940. Waktu itu aku masih kecil, duduk di lantai samping kursi goyangnya, sementara tangannya yang keriput terus memutar ujung kain sarung yang selalu ia kenakan. Aku menganggap ceritanya sebagai dongeng pengantar tidur. Namun, baru setelah ia tiada, ketika aku menelusuri berkas-berkas lama tentang Hindia Belanda tahun 1940, aku sadar bahwa yang ia ceritakan bukanlah dongeng—melainkan luka yang ia simpan seumur hidup.
Bau Angin Tahun 1940
Angin tahun 1940, kata nenekku, punya baunya sendiri. Bukan angin panas bercampur bensin dan aspal seperti sekarang, melainkan bau tanah kering yang pecah-pecah, bercampur asap putih menyengat dari kayu basah di tungku, dan hawa air mentah yang hambar dari semangkuk bubur singkong milik tetangga sebelah yang tidak pernah kunjung mengental.
Rumah Tanpa Jendela
Rumah mereka saat itu, dalam pandanganku hari ini, hampir tak layak disebut rumah. Ia tidak punya jendela—atau lebih tepatnya, lubang-lubang persegi di dinding itulah jendelanya. Siang hari, mereka menggantung sepotong papan dengan tali dan mengangkatnya untuk memasukkan cahaya; malam atau saat hujan, mereka menurunkan papan itu, dan dunia pun terputus total dari dalam. Dindingnya anyaman bambu, dan jerami kering menyumpal celah-celahnya. Saat angin kencang, seluruh permukaan dinding bergemerisik, seolah rumah itu sendiri sedang menggigil. Atapnya ilalang alang-alang, sudah lama menghitam oleh usia dan asap dapur. Hari hujan adalah momen paling menegangkan bagi seluruh keluarga: di lantai berjajar ember, kaleng, dan tempayan, dan di tengah bunyi teng-teng air menetes, ibu nenekku akan menggerutu pelan pada langit, sementara anak-anak meringkuk di satu-satunya sudut yang kering, menghitung tetes air yang jatuh.
Perabot dan Tungku
Lantai rumah itu adalah tanah yang dipadatkan. Tak ada tempat tidur—mereka hanya menggelar selembar tikar bambu usang di sudut. Yang bisa disebut perabot hanyalah sebuah peti kayu bersudut rompal, tempat menyimpan barang paling berharga keluarga: beberapa helai kain sarung penuh tambalan, sebungkus garam kasar, dan sebilah parang yang dianggap ayah nenekku sebagai pusaka. Di sudut lain mereka menggali lubang dangkal; tiga batu mereka susun menjadi tungku. Tanpa cerobong, asap berputar-putar di dalam ruangan, menyengat mata, dan lama-kelamaan balok atap serta dinding bambu pun diselimuti lapisan jelaga hitam mengilap. Nenekku bilang, jelaga itu satu-satunya hal mewah di rumah mereka, sebab setidaknya ia bisa sedikit menahan nyamuk.
Bubur Singkong dan Garam yang Dihitung
Meja makan saat itu hanyalah selembar daun pisang yang mereka gelar di lantai. Makanan pokok selalu singkong, kadang dicampur sedikit jagung. Nasi adalah kemewahan—hanya muncul saat selamatan atau pada hari-hari langka ketika panen sedang baik. Yang paling diingat nenekku adalah cara ibunya membagi makanan. Ibunya menumbuk singkong, merebusnya menjadi bubur yang encer sampai bisa memantulkan bayangan wajah, lalu dengan hati-hati ia mengambil sedikit garam dari tempayan kecil yang tersembunyi di kedalaman peti, dan menaburkannya. Tempayan garam itu adalah hasil tukar telur dengan pedagang keliling; setiap butirnya dihitung. Saat makan, tak ada yang berbicara—hanya bunyi seruput bubur, dan sesekali desah berat sang ayah ketika singkong terasa pahit.
Awan Mendung Tahun 1940
Suasana tahun 1940 penuh tekanan. Perang di Eropa sudah berkobar. Meski Jepang belum datang, desas-desus bahwa orang Timur akan menyerbu sudah menggantung seperti awan mendung sebelum musim hujan, menekan setiap dada. Pemerintah kolonial Hindia Belanda sibuk mempersiapkan perang dan memberlakukan berbagai pembatasan, dan nasib orang-orang di pelosok semakin terabaikan.
Ayah nenekku bekerja sebagai buruh harian di perkebunan; upahnya ditekan sangat rendah dan sering tertunda. Pada tahun itu, sebuah laporan internal pemerintah kolonial tengah diam-diam disusun, menyelidiki kondisi hidup buruh perkebunan dan petani Jawa. Laporan itu akhirnya tak sempat dipublikasikan karena invasi Jepang, tetapi angka-angka di dalamnya—asupan kalori yang menyedihkan, kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, dan hawa keputusasaan yang menyelimuti udara—cocok betul dengan kehidupan di rumah nenekku.
Adik Kecil di Bawah Pohon Pisang
Yang paling menyayat hati nenekku adalah adik perempuannya. Saat itu usianya tiga tahun, kurus hingga tinggal sepasang mata besar. Suatu hari adiknya demam tinggi, tubuhnya panas menggigil. Yang bisa dilakukan ibunya hanyalah mengompres dahi dengan kain basah, lalu memeluknya sepanjang malam di bawah lampu minyak yang nyalanya—minyaknya pun dihemat, sumbunya dipilih yang paling halus—sambil mendendangkan lagu dengan suara lirih. Obat tak terjangkau; bahkan untuk sekali berobat ke dukun di kota, uangnya tak ada. Nenekku bercerita, ia hanya bisa berjongkok di sudut, memandangi tubuh kecil yang gemetar dalam pelukan ibunya, mendengar napasnya yang semakin lama semakin lemah. Dini hari hari ketiga, adiknya tak lagi menangis. Ibunya tidak menangis dengan suara—ia hanya menenggelamkan wajahnya di dada anaknya yang sudah dingin, lama sekali. Ayahnya berjongkok di luar pintu, diam, menghisap rokok gulungan daun kering, sampai fajar datang.
Kemudian mereka menguburkan adiknya di bawah pohon pisang yang hampir mati di belakang rumah. Tak ada nisan; ayahnya hanya mengukir satu goresan tipis di batang pohon itu dengan parangnya. Malam itu, seperti biasa, ibunya memasak bubur singkong, tetapi tak seorang pun menyentuhnya. Nenekku bilang, ia memandangi cairan keruh di mangkuknya, dan untuk pertama kalinya ia merasakan dengan jelas bahwa rasa lapar dan rasa duka ternyata adalah rasa yang sama.
Kegelapan yang Tak Pernah Hilang
Nenek menutup ceritanya di situ. Ia tidak pernah melanjutkan bagaimana tahun 1941 berjalan, bagaimana Jepang datang dan segalanya berubah menjadi lebih buruk. Ia hanya diam, memutar ujung sarungnya, lalu menyuruhku tidur. Kini aku tinggal di rumah dengan jendela-jendela besar, dan di luar sana jalanan ramai oleh kendaraan. Kadang, di tengah malam, aku terbangun dan tiba-tiba teringat pada kegelapan yang digambarkan nenekku—kegelapan yang bahkan cahaya bulan pun tak mampu menembusnya, yang menyusup lewat celah-celah dinding bambu, keruh oleh asap dapur. Generasi mereka hidup dalam kegelapan semacam itu, dan dengan susah payah meneruskan hidup sampai ke tangan kami.
