Site icon Lintaszaman

Perbedaan Anak 1990-an dan Anak Sekarang dalam Mendengarkan Musik

Dari Kaset ke Streaming_ Dua Era Musik

Musik selalu menemani kehidupan manusia. Ia mengisi perjalanan, mengisi ruang kosong, dan menjadi latar berbagai momen penting. Namun, cara orang menikmati musik berubah besar dari masa ke masa. Jika kita bandingkan anak 1990-an dengan anak zaman sekarang, perbedaannya bukan sekadar soal teknologi. Ada juga perbedaan pengalaman, nilai, dan cara menghargai sebuah karya.

Anak 1990-an: Musik yang Harus Diperjuangkan

Di dekade 90-an, mendengarkan musik adalah sebuah ritual. Media utamanya adalah pita kaset, selain radio dan kemudian CD menjelang akhir dekade. Untuk bisa mendengarkan album favorit, seorang anak harus pergi ke toko kaset, memilih dengan teliti, dan membelinya dengan uang tabungan sendiri. Tidak ada pratinjau gratis, tidak ada streaming tak terbatas.

Alat Pemutar: Compo Polytron dan Rivalnya

Yang lebih dulu harus dimiliki tentu saja alat pemutarnya. Merek lokal Polytron hampir selalu jadi pusat musik di rumah-rumah saat itu. Satu unit Polytron Big Band BB 435K misalnya, radio tape yang beratnya sekitar dua kilogram, memakai IC power STK4172K, dilengkapi equalizer grafis lima band, dan bassnya “bisa bikin dada bergetar mengikuti irama disko”. Volume baru diputar setengah saja, satu rumah sudah ikut bergoyang. Ada lagi yang lebih gagah, Polytron Grand Bazzoke 612C, dengan output ganda masing-masing 7,5 WRMS, dukungan radio AM/FM/SW multi-band, surround sound, input mikrofon, dan fitur karaoke. Ukurannya 549×284×235 mm, lebih besar dari laptop zaman sekarang, dengan harga sekitar empat ratus ribu rupiah—jumlah yang harus ditabung lama di masa itu. Selain Polytron, ada juga merek lain seperti Sharp, Sony, Aiwa, dan Panasonic yang menjadi incaran, masing-masing dengan keunggulan dan penggemarnya sendiri.

Ritual Mendengarkan Musik

Mesin-mesin inilah yang membentuk pengalaman mendengarkan musik satu generasi: musik itu fisik, kolektif, dan harus ditunggu. Satu kaset habis sisi A, harus dibalik manual ke sisi B. Merekam lagu dari radio berarti harus setia menunggu di depan pesawat, dan saat tombol merah ditekan, tangan tidak boleh gemetar. Mau dengar satu lagu? Harus punya kasetnya dulu. Mau punya kasetnya? Harus pergi ke toko dan membelinya. Tidak ada pratinjau, tidak ada skip, tidak ada “next track”. Akibatnya, setiap album didengarkan utuh dari awal sampai akhir, setiap lagu yang kurang populer tetap dicerna berulang-ulang, dan playlist bukan dibuat algoritma, tapi ditulis tangan dengan pensil di label kaset.

Note Baca Halaman Berikutnya Klick Page

Nilai Sebuah Album

Konsekuensinya, setiap album terasa berharga. Anak 90-an mendengarkan lagu dari awal sampai akhir, membaca lirik di buku sisipan kaset, dan menghafal urutan lagunya. Ada rasa kepemilikan yang kuat karena kaset itu benar-benar milik mereka. Tidak jarang mereka merekam ulang lagu dari radio ke kaset kosong, membuat kompilasi pribadi yang penuh makna.

Pengalaman mendengarkan pun berbeda. Walkman menjadi teman setia, dan kaset yang rusak atau kusut menjadi tragedi kecil yang harus diperbaiki dengan pensil. Musik tidak bisa diakses kapan saja di mana saja; ia terikat pada alat, tempat, dan momen tertentu.

Anak Sekarang: Musik dalam Genggaman

Kini, semuanya berubah drastis. Anak sekarang mengakses musik hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel. Platform streaming, unduhan digital, dan YouTube menyediakan hampir semua lagu di dunia dalam hitungan detik. Mereka tidak perlu membeli album penuh jika hanya ingin satu lagu. Bahkan mereka tidak perlu membeli alat pemutar khusus—ponsel yang sudah ada di kantong sudah cukup untuk memutar apa pun.

Dominasi Smartphone dan Platform Streaming

Sebanyak 84% Generasi Z mengonsumsi konten audio lewat smartphone setiap hari, dengan YouTube dan Spotify sebagai raja. Hambatan pertama dalam mendengarkan musik sudah hilang: tidak perlu beli alat, tidak perlu beli album, tidak perlu menunggu radio memutar, bahkan tidak perlu tahu sedang mendengarkan apa—TikTok menyodorkan potongan chorus lima belas detik, algoritma menyuapi suara serupa, dan sebuah lagu “muncul begitu saja”. Pencarian digantikan rekomendasi, pilihan sadar digantikan konsumsi pasif.

Kemudahan yang Mengubah Segalanya

Kemudahan ini membawa banyak keuntungan. Akses menjadi tak terbatas, pilihan sangat luas, dan biaya relatif murah. Anak sekarang bisa menemukan musisi dari berbagai belahan dunia yang dulu sulit dijangkau. Playlist pribadi dapat dibuat secara instan, disesuaikan dengan suasana hati.

Sisi Lain dari Kelimpahan

Namun, ada sisi lain yang sering terlupakan. Karena musik begitu mudah didapat, ia kadang kehilangan nilai istimewanya. Lagu bisa dilewati setelah beberapa detik, album tidak lagi didengarkan secara utuh, dan perhatian terhadap karya musik menjadi lebih dangkal. Pengalaman “memiliki” musik juga bergeser menjadi sekadar “mengakses” musik. Mendengarkan musik di era Polytron punya bobot. Satu unit compo menempati posisi mencolok di meja, satu kaset di dalam laci akan menguning dimakan waktu, dan mixtape hasil rekaman sendiri yang diberikan ke orang lain tidak akan pernah kembali. Sedangkan musik di era streaming tidak punya bobot. Ia ada di cloud, di cache algoritma, di daftar “putar nanti”—dan “nanti” itu, bagi sebagian besar orang, tidak akan pernah datang. Ketika musik tidak lagi perlu dimiliki, ia juga sulit untuk benar-benar diingat. Anak 90-an bisa menyebutkan urutan lagu satu album penuh, anak sekarang mungkin hanya ingat potongan lima belas detik yang dipakai untuk tantangan dansa.

Perbedaan Mendasar

Secara garis besar, perbedaan mendengarkan musik anak 1990-an dan anak sekarang terletak pada beberapa hal:

Pertama, cara memperoleh musik. Dulu anak 90-an harus membeli alat pemutar dulu—compo Polytron, Sharp, atau Aiwa—lalu membeli kaset secara fisik. Sekarang anak zaman sekarang cukup mengunduh atau streaming lewat ponsel yang sudah mereka miliki.

Kedua, nilai pengalaman. Dulu setiap album terasa spesial dan personal karena harus diperjuangkan, sekarang musik lebih menjadi konsumsi cepat.

Ketiga, keterbatasan versus kelimpahan. Dulu pilihan terbatas sehingga orang lebih menghargai, sekarang pilihan melimpah sehingga mudah bosan.

Keempat, ritual versus kepraktisan. Dulu mendengarkan musik punya ritual tersendiri—membalik kaset, menyetel equalizer, menunggu lagu di radio—sekarang serba instan dan praktis.

Kelima, kedekatan dengan karya. Dulu anak 90-an hafal lirik dan urutan lagu, sekarang sering hanya mengenal potongan chorus dari media sosial.

Menghargai Dua Zaman

Tidak ada yang sepenuhnya buruk atau sepenuhnya baik. Anak 1990-an belajar kesabaran, penghargaan, dan kedekatan emosional dengan musik lewat compo Polytron dan kaset-kaset yang mereka tabung untuk beli. Anak sekarang menikmati kemudahan, keluasan, dan akses tanpa batas lewat ponsel dan platform streaming. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.

Mungkin kita bisa mengambil yang terbaik dari keduanya: menikmati kemudahan teknologi modern, tanpa kehilangan rasa hormat dan penghargaan terhadap karya musik sebagaimana anak 1990-an merasakannya. Sebab pada akhirnya, musik bukan hanya soal bagaimana ia sampai ke telinga, tetapi juga bagaimana ia menyentuh hati.

 

0 0 votes
Article Rating
Bagikan Artikel ini
Exit mobile version