Masa Kejayaan Bioskop di Bandung Era 1990-an dan Warisan Bioskop Kolonial Belanda

Pendahuluan

Era 1990-an menorehkan kenangan manis bagi dunia hiburan di Bandung. Layar lebar masih menjadi primadona utama sebelum pergeseran teknologi mengubah cara orang menikmati film. Berbagai bioskop bermunculan dan menjadi pusat gravitasi kehidupan sosial warga, dari pusat kota hingga ke pinggiran seperti Majalaya dan Cicalengka. Kenangan tentang gedung-gedung megah, aroma karpet tua, dan antrean tiket melekat kuat dalam memori kolektif generasi 1990-an.


Deretan Bioskop Legendaris Era 1990-an

Bandung di era 90-an memiliki peta bioskop yang tersebar luas. Di pusat kota, Bioskop Dian di Jalan Dalem Kaum menyimpan sejarah panjang. Gedung yang dibangun pada 1925 ini dulunya bernama Radio City dan sempat menjadi simbol modernitas. Namun, pertengahan 1990-an mengakhiri riwayat Dian sebagai bioskop; gedungnya kemudian beralih fungsi menjadi lapangan futsal.

Di Jalan Sumatera, Bioskop Regent berdiri megah di gedung Wisata Graha. Resmi dibuka tahun 1989, Regent hadir dengan fasilitas modern pada zamannya. Penonton bisa menikmati film sambil memesan makanan dari food court yang diantar langsung ke dalam teater. Keberadaan Pizza Hut dan Pink Cadillac Cafe di gedung yang sama menambah daya tarik tempat ini sebagai pusat hiburan terpadu.

Kawasan Kosambi juga menjadi rumah bagi tiga bioskop yang sempat berjaya: Rivoli Theater (kemudian berganti nama menjadi Bioskop Fadjar), Bandung Theater, dan Plaza Theater. Bandung Theater milik Chand Parwez sering memutar film-film karya anak bangsa dan bahkan meraih Piala Citra. Namun, sekitar awal 1990-an, lesunya industri film nasional memaksa bioskop-bioskop ini tutup. Plaza Theater yang berada di Jaya Plaza juga bernasib sama dan kini berubah menjadi pertokoan komputer.

Di luar pusat kota, Palaguna di kawasan Alun-alun, KopoKiaraArtha, dan Dallas turut meramaikan pilihan hiburan warga Bandung. Bahkan hingga ke Majalaya, ada Hegar TheaterSukamanah Theater, dan Majalaya Theater yang tutup sekitar tahun 1990-an. Di Cicalengka, Bioskop Laksana—lebih dikenal dengan nama Baron atau julukan unik “Petay” (cepe ngantay—seratus rupiah antre panjang)—menawarkan tiket hanya Rp100 untuk malam Minggu.


Harga Tiket dan Pengalaman Menonton

Harga tiket yang terjangkau menjadi salah satu daya tarik bioskop era 90-an. Di Bioskop Regent, tiket hari Senin-Kamis hanya Rp7.500, sementara akhir pekan Rp15.000. Sementara itu, Majalaya Theater menjual tiket Rp350 yang pada masanya tergolong cukup mahal. Konsep “Nomat” atau Nonton Hemat pun populer di kalangan pelajar dan mahasiswa untuk menikmati hiburan murah meriah.

Pengalaman menonton di bioskop era 90-an memiliki ciri khas tersendiri. Penonton mengantre di loket, membeli jajanan kaki lima seperti kacang rebus dan minuman ringan, lalu masuk ke ruangan gelap dengan kursi beludru. Aroma karpet lama, suara kipas pendingin udara tua, dan lampu redup sebelum film diputar menciptakan sensasi yang sulit dilupakan. Sistem pemesanan tiket pun masih tradisional—di Regent, tiket masih menggunakan kertas biasa dengan nomor tempat duduk ditempel stiker manual, sementara bioskop lain mulai beralih ke sistem komputerisasi.


Ragam Film yang Diputar

Keberagaman film yang diputar mencerminkan selera masyarakat yang eklektik. Film-film Hollywood laris seperti Jurassic ParkTrue RomanceMrs. Doubtfire, dan Hard Target membanjiri layar bioskop. Film aksi seperti American Ninja 5 dan Only The Strong juga menjadi favorit anak muda.

Tak ketinggalan, film-film Asia turut meramaikan. Film kungfu Jackie Chan seperti Drunken Master II, film wuxia Hong Kong seperti Kung Fu Cult Master, hingga film Bollywood seperti Shatranj memiliki penggemar setia. Industri film nasional pun masih menunjukkan taringnya dengan film-film seperti Akibat Hamil Muda dan Perawan Lembah Wilis.

Menariknya, momen Lebaran menjadi waktu istimewa. Iklan film di harian Bandung Pos edisi 4 Maret 1994 menunjukkan jadwal tayang yang ramai, dari sesi siang hingga malam setelah tarawih. Tradisi nonton bioskop saat libur Lebaran menjadi agenda keluarga yang dinanti.


Akhir Kejayaan dan Pergeseran Zaman

Memasuki akhir 1990-an, pamor bioskop-bioskop lama mulai meredup. Bioskop modern dengan fasilitas audio-visual lebih canggih, maraknya peredaran VCD bajakan, dan meningkatnya kepemilikan televisi di rumah menjadi pukulan telak. Bioskop-bioskop klasik satu per satu gulung tikar. Regent bertahan hingga 2011, sementara yang lain sudah lebih dulu berganti fungsi menjadi tempat futsal, pertokoan, atau bahkan terbengkalai.

Meski telah tiada, kenangan tentang bioskop-bioskop ini tetap hidup. Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an, menonton film di layar lebar bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari gaya hidup dan ritual sosial yang membentuk identitas urban Bandung. Gedung-gedung bekas bioskop yang masih berdiri menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan monumen nostalgia bagi Kota Kembang.


Daftar Bioskop Peninggalan Era Kolonial Belanda di Bandung

Sebelum gemerlap era 1990-an, sejarah bioskop di Bandung telah dimulai sejak awal abad ke-20. Pada masa kolonial Belanda, bioskop bukan sekadar tempat menonton film, melainkan simbol status sosial dan modernitas yang eksklusif bagi kaum elite Eropa. Berikut adalah daftar bioskop peninggalan kolonial yang pernah berdiri di Bandung:


1. Concordia Bioscoop / De Majestic

  • Lokasi: Jalan Braga, Kota Bandung

  • Tahun Dibangun: 1920-1925

  • Arsitek: Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker

  • Gaya Arsitektur: Art Deco (sering disebut “kaleng biskuit”) dengan ornamen lokal Batara Kala

  • Sejarah: Kaum elite Eropa membangunnya sebagai bioskop paling bergengsi. Pernah berganti nama menjadi Oriental Bioskop, Bioskop Dewi, dan Asia Africa Cultural Centre (AACC) sebelum akhirnya dikenal sebagai De Majestic. Gedung ini menyaksikan pemutaran perdana film pertama Indonesia, Loetoeng Kasaroeng, pada tahun 1926.

  • Kondisi Saat Ini: Masih berdiri kokoh, kini berfungsi sebagai gedung kesenian dan kebudayaan.


2. The Oriental Bioscope

  • Lokasi: Di sekitar Alun-alun Bandung (sebelah timur)

  • Arsitek: F. W. Brinkman

  • Gaya Arsitektur: Art Nouveau

  • Sejarah: The Oriental Bioscope hadir sebagai salah satu bioskop pertama di Bandung yang menghadirkan pengalaman imersif menonton film bisu dengan iringan orkestra kecil. Gedung ini menjadi simbol kemewahan dan modernitas pada masanya.

  • Kondisi Saat Ini: Pemerintah membongkarnya pada tahun 1980-an, lahannya kemudian digunakan untuk pertokoan Palaguna dan bioskop Palaguna serta Nusantara.


3. Radio City / Bioskop Dian

  • Lokasi: Jalan Dalem Kaum No. 58, Bandung (di depan Alun-alun)

  • Tahun Dibangun: 1925 atau 1930

  • Pengelola Awal: J. F. W. de Kort dan Thio Tjoan Tek

  • Sejarah: Awalnya, pengelola hanya memperuntukkan bioskop ini bagi orang Belanda dan kalangan priyayi. Setelah kemerdekaan, gedung ini berganti nama menjadi Bioskop Dian. Dari empat bioskop di kawasan Alun-alun, hanya bangunan ini yang masih tersisa hingga kini.

  • Kondisi Saat Ini: Gedung ini terbengkalai, sempat beralih fungsi menjadi tempat futsal, dan kini sesekali digunakan untuk pameran seni. Pemerintah menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya Golongan A.


4. Bioskop Elita

  • Lokasi: Kawasan Alun-alun Bandung (bersebelahan dengan Oriental)

  • Tahun Dibangun: 1910

  • Pemilik: F. A. A. Busse (melalui jaringan Elita Concern)

  • Sejarah: Masyarakat mengenalnya sebagai bioskop paling elite di Bandung bersama Concordia. Pengunjung biasanya datang dengan pakaian rapi dan memakai sepatu.

  • Kondisi Saat Ini: Pemerintah meruntuhkannya, dan lahannya sekarang menjadi bagian dari Palaguna yang juga telah dihancurkan.


5. Bioskop Varia

  • Lokasi: Di sebelah selatan Bioskop Elita, kawasan Alun-alun

  • Sejarah: Varia merupakan taman hiburan rakyat (feesterrein) yang terletak di samping Bioskop Elita, bagian dari jaringan bioskop milik F. A. A. Busse.

  • Kondisi Saat Ini: Ikut diruntuhkan bersama Elita dan Oriental pada tahun 1980-an.


6. Luxor Park

  • Lokasi: Kawasan Kebonjati, Bandung

  • Sejarah: Luxor Park hadir sebagai bioskop terbuka (open air cinema) tanpa atap—cikal bakal “bioskop misbar” (gerimis bubar). Penonton bisa menyaksikan film dari dua sisi layar yang berbeda, sehingga sering terjadi perdebatan soal adegan film.

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi, termasuk dalam jaringan bioskop F. A. A. Busse yang kini sudah tidak ada.


7. Luxor Theater

  • Lokasi: Kawasan Kebonjati, Bandung

  • Sejarah: Berbeda dengan Luxor Park yang terbuka, Luxor Theater hadir sebagai bioskop dalam gedung. Keduanya bagian dari jaringan Elita Concern milik F. A. A. Busse.

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi.


8. Bioskop Liberty

  • Lokasi: Kawasan Cicadas, Bandung

  • Sejarah: Liberty menjadi salah satu bioskop yang tersebar di pinggiran kota Bandung pada masa kolonial, bagian dari jaringan F. A. A. Busse.

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi.


9. Rivoli Theater / Bioskop Kosambi

  • Lokasi: Kawasan Kosambi, Bandung (kini Pasar Kosambi)

  • Sejarah: Rivoli Theater kemudian berganti nama menjadi Bioskop Fadjar. Bioskop ini pernah menjadi salah satu pusat hiburan di Bandung.

  • Kondisi Saat Ini: Pemerintah menghancurkannya, kini menjadi Pasar Kosambi.


10. Plaza Theater

  • Lokasi: Jaya Plaza, Bandung

  • Sejarah: Plaza Theater hadir di dalam kompleks Jaya Plaza.

  • Kondisi Saat Ini: Kini berubah fungsi menjadi pertokoan komputer.


11. Bioskop Roxy

  • Lokasi: Kawasan Kebonjati, Bandung

  • Sejarah: Bagian dari jaringan bioskop Elita Concern milik F. A. A. Busse.

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi.


12. Oranje / Oranje Park

  • Lokasi: Kawasan Cikakak, Bandung

  • Sejarah: Jaringan Elita Concern menyediakan dua versi, Oranje (dalam gedung) dan Oranje Park (taman terbuka).

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi.


13. Bioskop Rex

  • Lokasi: Belum diketahui secara pasti

  • Sejarah: Rex tercatat sebagai bagian dari jaringan bioskop F. A. A. Busse di Bandung pada tahun 1936.

  • Kondisi Saat Ini: Tidak beroperasi.


14. Bioskop Rio (Cimahi)

  • Lokasi: Jalan Pabrik Aci, Cimahi (dekat Alun-alun Cimahi)

  • Tahun Dibangun: Era Hindia Belanda, sebelum 1936

  • Pemilik: F. F. Busse (nama yang sama dengan pemilik jaringan Elita Concern)

  • Gaya Arsitektur: Art Nouveau

  • Sejarah: Pembangunannya menyasar kalangan Eropa, baik sipil maupun tentara Belanda. Bioskop ini bertahan hingga era 1990-an.

  • Kondisi Saat Ini: Kini berubah menjadi pusat pertokoan ponsel. Elemen fasad atap dengan tulisan “Rio” masih tersisa dan terdaftar sebagai cagar budaya.


Warisan yang Tak Terlupakan

Dari Concordia yang megah hingga Luxor Park yang unik, bioskop-bioskop peninggalan kolonial Belanda ini menjadi fondasi bagi tradisi menonton film di Bandung. Meski sebagian besar telah hilang atau berubah fungsi, jejak mereka masih tersimpan dalam arsitektur, cerita, dan ingatan kolektif warga Bandung. Bangunan seperti De Majestic dan Bioskop Dian yang masih berdiri menjadi pengingat akan perjalanan panjang dunia perfilman di Kota Kembang—dari era film bisu yang diputar diiringi orkestra hingga gemerlap bioskop modern yang kita kenal sekarang.

Loading

0 0 suara
Article Rating
Bagikan Artikel ini...
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
guest
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x