
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana keadaan bumi ribuan tahun sebelum Nabi Adam AS melangkahkan kakinya di atas permukaan tanah? Dalam perspektif Islam, ternyata bumi tidak pernah kosong. Sebelum manusia ada, makhluk lain lebih dulu menghuni dan menguasai bumi. Mereka adalah kaum yang kita kenal dengan nama Banul Jan.
Siapakah mereka, bagaimana sifatnya, dan apa hubungannya dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Mari kita telusuri bersama.
Siapa Itu Banul Jan?
Secara harfiah, Banul Jan berarti “anak-anak jin” atau keturunan jin. Literatur klasik menggambarkan mereka sebagai makhluk yang memiliki wujud fisik jasmani—berdaging dan berdarah—yang tidak jauh berbeda dengan manusia. Namun, substansi penciptaan mereka berbeda. Allah menciptakan manusia dari tanah liat, sementara Banul Jan berasal dari api.
Allah SWT berfirman tentang asal penciptaan jin dalam dua ayat berikut:
Pertama, Surat Al-Hijr Ayat 27:
وَالْجَاۤنَّ خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ
Transliterasi: Wal-jānna khalaqnāhu min qablu min nāris-samūm
Artinya: “Sebelumnya Kami telah menciptakan jin dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 27)
Kedua, Surat Ar-Rahman Ayat 15:
وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ
Transliterasi: Wa khalaqal-jānna mim mārijin min nār
Artinya: “Dan Dia menciptakan jenis jin dari nyala api yang murni tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 15)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa jin (termasuk Banul Jan) berasal dari api, berbeda dengan manusia yang berasal dari tanah liat. Kata “min qablu” (sebelumnya) dalam Surat Al-Hijr ayat 27 secara jelas menyatakan bahwa jin lebih dahulu ada daripada manusia.
Penghuni Bumi Pertama yang Kontroversial
Al-Qur’an tidak menyebut Banul Jan secara eksplisit sebagai penghuni bumi sebelum Adam. Namun, para ulama mengambil kesimpulan dari dialog antara Allah dan para malaikat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30. Ayat inilah yang menjadi fondasi utama pembahasan ini.
Allah SWT berfirman:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Transliterasi: Wa iż qāla rabbuka lil-malā’ikati innī jā’ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj’alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā’, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a’lamu mā lā ta’lamūn
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'” (QS. Al-Baqarah: 30)
Mengapa Malaikat Bertanya Seperti Itu?
Pertanyaan malaikat, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?”, sering menimbulkan pertanyaan: Mengapa malaikat yang suci bisa berkata seperti itu? Bukankah mereka tidak boleh berprasangka buruk kepada ciptaan Allah?
Para ulama tafsir klasik, seperti Ibnu Katsir, Al-Thabari, dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat tersebut bukanlah bentuk protes atau pembangkangan, melainkan permohonan penjelasan (istifham) untuk mengetahui hikmah ilahi. Mereka bertanya karena mereka telah menyaksikan sendiri perilaku makhluk sebelumnya yang menghuni bumi, yaitu kaum Banul Jan.
Para malaikat melihat langsung bagaimana Banul Jan:

-
Saling bermusuhan dan berperang.
-
Menumpahkan darah tanpa sebab yang benar.
-
Membuat kerusakan di muka bumi dengan kezaliman.
Ketika Allah berfirman bahwa Dia hendak menjadikan khalifah (pengganti) di bumi, para malaikat langsung mengaitkan kata “pengganti” itu dengan makhluk sebelumnya. Mereka khawatir manusia akan mengulangi pola yang sama. Namun Allah menjawab dengan tegas:
قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Jawaban ini mengandung isyarat bahwa manusia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki malaikat, yaitu akal, kemauan bebas, dan potensi untuk menjadi makhluk yang lebih mulia melalui ujian dan ibadah. Allah pun mengetahui bahwa di antara keturunan Adam akan lahir para nabi, rasul, dan orang-orang saleh yang memakmurkan bumi dengan ketaatan.
![]()
Lintaszaman Portal Digital Perjalanan Waktu