📍 Bandung – Sebuah bangunan tua bergaya Eropa berdiri megah di Jalan Belitung No. 8. Kini bangunan tersebut menampung SMAN 5 Bandung dan SMAN 3 Bandung, dua sekolah unggulan kebanggaan warga Bandung. Akan tetapi, di balik dinding-dinding kokohnya, masyarakat mempercayai adanya sosok noni Belanda Bernama Nancy yang masih “menghantui” koridor sekolah hingga saat ini. — SEJARAH Pertama-tama, mari kita telusuri …
Read More »Rumah Angker Anneke van Deventer
Prolog: Kepergian yang Pahit dari Tanah Hindia Tahun 1950, lima tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, Hendrik van Deventer berdiri gemetar di beranda rumah megah miliknya. Sebelumnya, ia mendesain rumah ini khusus untuk putri semata wayangnya, Anneke van Deventer. Namun kini, rumah itu terasa seperti kuburan besar. Surat pengusiran dari pemerintah Indonesia tergenggam erat di tangannya. Oleh karena itu, ia harus meninggalkan tanah yang sudah menjadi rumahnya selama …
Read More »Arsip Video Masa Penjajahan Belanda di Bandung: Rekaman Visual Langka “Parijs van Java
Jelajahi arsip video masa penjajahan Belanda di Bandung yang memperlihatkan suasana kota sebagai “Parijs van Java“. Dari gedung megah hingga kehidupan sosial, saksikan rekaman visual langka Nusantara di era kolonial. Bandung Tempo Dulu (1929) | Pemandangan Kota Bandung – Sejarah Asli Paris Jawa Suasana Kampus ITB 103 tahun Silam – Institut Teknologi Bandung Tempo Dulu tahun 1922 Kota Bandung tahun …
Read More »Kisah Cinta Terlarang Anneke van Deventer
Bab I: Putri yang Hidup dalam Menara Gading Perkebunan Teh Di tengah gemerlap Hindia Belanda akhir abad ke-19, Anneke van Deventer hidup bagai dewi dalam kuilnya sendiri. Ayahnya, Hendrik van Deventer, seorang juragan Perkebunan Teh Gunung Sari di Jawa Barat yang kaya raya sekaligus arsitek ternama. Perkebunan seluas ribuan hektar di Priangan itu menghasilkan teh berkualitas ekspor yang menjadi sumber kekayaan …
Read More »Aroma Teh dan Bisikan Terlarang: Kisah Elisabeth Johanna & Yusuf
Prolog: Zaman yang Membelah Hati Langit Hindia Belanda menyelimuti semua orang dengan warna sama, tetapi garis-garis tak kasatmata membelah tanahnya menjadi wilayah-wilayah terpisah—garis ras, kasta, dan status sosial yang kaku. Pada masa itu, sepatu boot Belanda menginjak jalanan berbatu, sementara kaki telanjang pribumi membajak sawah. Rumah besar beratap merah menjulang megah di bukit, sebaliknya gubuk anyaman bambu berjejal di lembah. Dalam konteks inilah, kisah cinta sering …
Read More »
Lintaszaman Portal Digital Perjalanan Waktu